AGAMA · CORATCORETCARUT

BERAGAMA SECARA CERDAS

kata-mutiara-gus-dur-04

Kita tahu kalau kebanyakan orang yang menganut agama tertentu (Islam atau Kristen atau Hindu atau Budha dll) merupakan penganut keturunan. Semisal jika seseorang menjadi muslim itu karena dari orang tuanya, orang tuanya menjadi muslim karena kakeknya, kakeknya menjadi muslim karena dari buyutnya dan seterusnya. Begitu juga dengan yang Kristen, Hindu, Budha dll.

Sebagian lagi beragama karena lingkungan/pengaruh, misalnya jika mayoritas suatu daerah memeluk agama tertentu maka yang minoritas bisa jadi mengikuti yang mayoritas atau karena ajakan (pengaruh/misi).

Ada lagi seseorang menjadi penganut agama tertentu karena memang mencari agama yang dicari “kebenarannya”. Misalnya dengan sengaja membandingkan agama yang satu dengan yang lainnya, dipelajari, dianalisa ajarannya sehingga menemukan suatu keyakinan bahwa inilah yang layak diyakini.

Seorang penganut agama tertentu yang selalu hidup hanya pada lingkungan yang agamanya sama akan meyakini bahwa agamanyalah yang benar dan yang lain salah. Namun keadaannya akan berbeda jika penganut agama tertentu tersebut berada pada lingkungan yang mayoritas bukan satu agama dengannya, punya kecenderungan untuk mempertanyakan kebenaran agama nya itu. Baginya untuk meyakinkan kebenaran agamanya perlu pembuktian agar menambah keyakinannya. Dan jika jawaban tidak memuaskannya maka dengan mudahnya menarik kesimpulan,”aah, semua agama ternyata sama kok, semuanya mengajarkan kebaikan. Bahkan sepertinya tidak perlu beragama, cukuplah berbuat baik saja dan pastinya tuhan tahu kok hati kita”.

Seseorang akan bertambah keyakinannya mengenai kebenaran agamanya karena kesadaran. Artinya adalah kesadaran untuk mencari dan menggali sebuah kebenaran yang ada pada agamanya. Semakin digali, dipelajari, dimaknai maka akan menemukan hakikat dari agama yang diyakininya. Menjadi lebih menghargai agama yang ia yakini, lebih menghargai agama orang lain, menghargai keyakinan orang lain dan sebagainya. Akhirnya beragama bukan sekedar dari keturunan atau lingkungan.

“Janganlah kamu mengikuti suatu pendirian tanpa pengetahuan yang meyakinkan sebab pendengaran, penglihatan, dan hati masing-masing akan dimintai pertanggungjawaban” QS Al-Israa’ [17]: 36 ,

“Beragama secara cerdas”, mungkin itu adalah kata yang tepat. Disadari atau tidak, terkadang ada saatnya kita menjadi fundamental bahkan militan, kadang suatu waktu kita bisa menjadi liberal. Karena dalam memahami, menyikapi, memutuskan urusan agama kita punya standar kebenaran. Dalam Islam; Alqur’an, Ahlul Bait Rasulallah / Sunah, kita harus cerdas, wallahu alam

 

ini hanya pemikiran saya saja, yaa maaf kalo salah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s