CORATCORETCARUT

Musik Sebagai Bahasa

Musik adalah bahasa yang mampu beradaptasi dengan telinga orang dari belahan dunia mana saja. Kerennya musik itu sebagai bahasa Universal. Kita sah-sah saja mendengar, melihat atau membuat musik. Kita sah-sah saja menyukai jenis musik tertentu.

Dengan musik, orang-orang bisa menyatukan pandangan, ras, agama, jenis kelamin dll. Dengan musik juga bisa menentukan gaya hidup. Bahkan ada orang yang mengatakan bahwa selama hidupnya ia tak bisa lepas dari musik. Itu terserah mereka berpendapat, karena itulah kekuatan musik.

Bagi saya menyukai musik harus dengan bijak, karena saya sering melihat untuk sebagian orang sangat bisa mempengaruhi jiwa (kejiwaan). Istilahnya, “suka musik karena ikut-ikutan” atau hanya karena lagi trendy, karena menurut saya, orang yang selera musiknya ikut-ikutan/trend adalah bukan penikmat musik (sekali lagi, menyukai musik dengan bijak). Akhirnya timbul kesan “ngampung” banget sih.

Misal nih, kita sering melihat orang atau segerombolan berpakaian/dandan ala punk tanpa tau filosofi punk itu sendiri, mereka hanya tau bahwa punk itu lambang pemberontakan, pemberontakan apa ? atau kadang kita suka melihat di tipi ada artis mengacung-acungkan tangan dua jari (horns up) tanpa tau artinya. Ada lagi artis yang berdandan ala gothic padahal hanya penyanyi dangdutan atau tidak tau makna dandanannya.

Oleh karenanya, suka musik atau memainkan musik atau menikmati musik jangan hanya sekedar suka tanpa tau maknanya, artinya atau apapun yang akhirnya memberikan kesan hanya ikut-ikutan.

Kita harus bisa memilah mana yang baik dan buruk.

Saya seorang Metalhead, saya menyukai musik metal, saya penikmat musik metal, saya juga pemusik metal, saya menyukai semua jenis musik metal; heavy metal, thrash metal, death metal, gothic, black metal, power metal, grindcore dan genre musik yang independent/underground (sebenarnya lebih suka thrash/death metal sih), namun haruskah saya bergaya metal dalam keseharian saya ?

Tentu tidak, saya harus memposisikan metal itu secara proporsional. Saya seorang pekerja, saya seorang ayah dari 4 orang anak, dan terlebih lagi saya tidak akan “menabrakkan” kemetalan saya dengan akhlak saya sebagai seorang Muslim. Untuk itu saya tidak mau fanatik buta tanpa tau arti, falsafah, baik buruknya musik itu sendiri.

Akhirnya, musik sebagai bahasa namun harus memiliki kebijakan dalam musik.

Wallahu alam…

3b6e719612c8400767bc33ec119fd26e

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s