AGAMA · CORATCORETCARUT

Poligami & Ketidakadilan

2180482

Ngomongin poligami yuuuk…

Jujur aja kalo ngomongin masalah poligami agak sensitip, apalagi kalo tulisan ini di baca ama istri saya…hehehehe, bukannya saya anggota Persatuan Suami Takut Istri, tapiiiii sensitip ya ajah….

Ok, bagi saya poligami itu sah-sah aja, toh dalam Islam gak dilarang kok dan saya yakin Islam tidak memerintahkan sesuatu kecuali mengandung 100% kebaikan, atau kebaikan-nya lebih dominan. Dan Islam tidak melarang sesuatu kecuali mengandung 100% keburukan, atau keburukannya lebih dominan.

“Nikahilah wanita-wanita (lain) yang kalian senangi masing-masing dua, tiga, atau empat, kemudian jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil, kawinilah seorang saja, atau kawinilah budak-budak yang kalian miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat pada tindakan tidak berbuat aniaya. (QS an-Nisa’ [4]: 3)

Jelaskan ? Jadi saya setuju poligama karena tidak bertentangan dengan Islam, namun saya bukan pendukung poligami, apalagi punya niatan poligami. Saya lebih suka monogami (1 itu lebih indah adanya hehehehe…).

Ngomongin poligami tidak akan ada habisnya, akan selalu asik aja kalo ngupas/ngomongin poligami, yaah bukan dalam Islam aja sih, sebelum datangnya Islam sebenarnya sudah ada, yakni dengan adanya selir-selir dari para raja, jadi poligami bukanlah “monopoli” Islam aja. Hanya saja bagi para propaganda anti-Islam sangat senang mengkait-kaitkan hal tersebut dengan Rasulallah. Bahwa Islam adalah agama yang nafsu sex-nya tinggi.

Sayangnya untuk para anti-Islam tidak mengetahui “kenapa” Rasulallah seperti itu. Mereka hanya menjadikannya sebagai senjata, satu sisi mereka memakai standar ganda. Nyatanya antek anti Islam atau apapun namanya melegalkan sex tanpa ikatan dengan akibatnya hamil diluar nikah, atau pernikahan yang ditujukan dengan sex sesaat kemudian pisah, dan masih banyak lagi.

Rasuluallah memiliki apa yang disebut dengan khushûsiyyât, atau spesifikasi yang dimiliki Nabi yang tidak dimiliki dan tidak boleh dituruti orang lain. Mungkin dalam hal ini termasuk masalah poligami juga. Rasulallah setia mendampingi Khadijah binti Khuwalid RA, selama 28 tahun dan berpoligami dua tahun setelah Khadijah wafat selama 8 tahun. Hal itu pun dilakukan dengan alasan-alasan di atas yang sudah disebutkan ditambah dengan keinginan Nabi Muhammad untuk mengangkat harkat perempuan yang di masa itu yang benar-benar tidak mendapat keadilan.

Jadi jika dikaitkan dengan masa sekarang, sepertinya sulit ada manusia memiliki spesifikasi yang ada pada Rasulallah. Dalih sunah Rasul, masalah ekonomi, masalah takut dimurtadkan lah, ini, itu, menjadi alasan yang memang dicari-cari. Lihat saja, dengan macam dalih diatas, toh masalah kecantikan, kekayaan, menghindari selingkuh, zinah bla-bla-bla atau lainnya menjadi sub-dalih yang tersembunyi.

Kok tersembunyi ? Ya iyalah yang tau alasannya atau “motif”nya kan oknum yang berpoligami dan Allah saja. Okelah, jika ada yang mampu “adil” paling hanya 1 atau 2 saja, itupun pasti ada riak-riak ombak, tidak ada “adil” yang sempurna.

Secara materi mungkin ada yang mampu menafkahi hingga 5 istri atau lebih, bagaimana dengan keadilan hati ? Ada yang bisa jamin ?

Tingkat pendidikan perempuan jaman sekarang sudah dalam level yang tinggi, tidak mudah dibohongi, menerima saja. Ada sih, dan pastinya berurusan dengan “motif” lain. Ekonomi misalnya ? masalah sex mungkin ? Artinya jika berkenaan dengan hati, tidak ada juga perempuan mau di poligami, tul gak ?

Kemudian, dengan semakin tingginya tingkat pendidikan perempuan, tentunya membuka pemikiran hingga pemberontakan, dan akhirnya seakan poligami sudah tidak relevan pada saat ini.

Adil Gak ?

Kok laki-laki boleh poligami ? Ini bukan masalah yang ada dalam Islam saja. Dalam agama lain saya rasa juga ada, hanya karena saya bukan pemeluk “agama lain”, jadi untuk mengulitinya yah serahkan saja pada “ulamanya”.

Adil tidaknya mungkin bisa jadi timbul pertanyaan, “Kenapa perempuan tidak boleh menjadi Imam sholat ?” atau kalo di Indonesia, “kenapa perempuan tidak boleh menjadi presiden?”, akhirnya, “kenapa laki-laki boleh berpoligami dan kenapa hanya laki-laki? ”

Apakah ini adil dalam Islam ? Ungkapan aktivis perempuan atau para propaganda anti Islam menyatakan Islam memperbolehkan laki-laki untuk “menindas” kaum perempuan melalui praktek poligami ?

Serangan terhadap Islampun dirasa tidak adil, ambil saja suatu contoh suatu ketidak adilan diluar Islam. Apa bahasa Inggris dari Tuhan ? Yup, dalam bahas Inggris adalah GOD, tapi bagaimana jika tuhan menjadi kata ganti orang ketiga dalam bahasa Inggris ? Jawabannya “HE” dan “HIM”.

“HE” dan “HIM” diartikan sebagai laki-laki, bagaimana tahu tuhan itu laki-laki ? kenapa bukan perempuan ? (SHE atau HER). Ini jelas karena budaya Inggris tersebut beranggapan bahwa hanya kaum laki-lakilah yang mampu merepresentasikan sifat-sifat Tuhan. Zat yang Maha Kuat, Maha Benar, Maha Adil, Maha Tinggi, Maha Perkasa, dan sebagainya di “image” kan sebagai sifat laki-laki. Apakah itu adil ? Dalam Islam zat Allah tidak bisa diartikan laki-laki atau perempuan.

Itu hanya dalam masalah bahasa, belum lagi jika dikupas dengan berbagai skandal-skandal dibarat. Jadi ? Keadilan dalam Islam mengenai Laki-laki dan perempuan sudah jelas dan sering dibicarakan (kapan-kapan disenggol deh)

Ternyata jika ada poliandri ?

Kita ambil analogi, ambil 1 buah botol yang terisi air putih dan 4 buah gelas kosong. Isilah 4 buah gelas tersebut dengan isi botol, maka rasa ataupun warna dari gelas akan sama, rasa air putih dan warna air putih (bening). Begitu juga jika botol tersebut di isi kopi dan warna kopi adalah hitam. Kemudian tuangkan 4 gelas tersebut dengan isi botol yang sudah diganti dengan isi air kopi, maka begitu juga dengan isi gelas, rasa dan warna akan sama dengan isi botol yang berisi air kopi.

Sekarang kebalikannya, ambillah 4 botol yang isinya berbeda (air kopi, air jeruk, air coca cola dan air fanta misalnya) dan 1 buah gelas, kemudian isilah gelas tersebut dari ke empat isi botol tadi. Gimana ? Aneh kan ? Dari rasa maupun warna.

Allah SWT Maha Mengetahui mengapa membolehkan poligami untuk laki-laki tapi melarang poliandri untuk perempuan. Sebagian pihak menganggap itu sebagai bentuk ketidakadilan Allah SWT. Mereka menganggap Allah SWT seolah hanya menguntungkan laki-laki tapi justru merugikan perempuan.

Disitulah letak keadilan Allah terhadap perempuan. Ia menempatkan perempuan di tempat yang layak tidak boleh poliandri, sebab perempuan sendirilah yang akan menjatuhkan harkat dan martabat perempuan.

Secara sifat, perempuan umumnya cenderung hanya mencintai seorang lelaki. Perempuan biasanya tak kan sudi cintanya diduakan. Karena itulah, umumnya perempuan tidak rela sang suami berpoligami.

Dengan demikian, jika perempuan berpoliandri, ia pun seolah berusaha menghapus fitrah kewanitaannya. Bayangkan, betapa merepotkannya untuk menentukan siapa ayah anak dari seorang perempuan yang berpoliandri. Setiap kali anak lahir, harus dilakukan tes DNA dulu. Akan terjadi kekacauan nasab saat terjadi poliandri.

Karena itu pula, anak yang terlahir dari seorang ibu yang melakukan hubungan seksual dengan banyak laki-laki, akan mengalami beban psikologis, moral, dan hukum. Meski secara medis melalui test DNA, bisa ditentukan lelaki yang membuahi, tapi menetapkan status hukum ayah bukanlah hal yang mudah. Begitu pula dengan pembagian warisnya yang tentunya akan sulit dan rumit luar biasa.

Jadi ? Allah tetap tidak adil ?

Bagi saya, saya akan lebih bahagia dengan 1 istri, terlebih dimeriahkan dengan 4 orang anak-anak saya…..

Wallahu alam….

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s