CORATCORETCARUT

MALANGNYA GURU TERSAYANG

Ngomongin guru nih, terlepas dari adanya guru bejat, guru killer, guru porno, guru ganjen, saya menganggap pekerjaan guru adalah pekerjaan mulia. Kalo ada guru bejat, ganjen, gatel atau apapun, itu adalah oknum manusianya, dan bukan pekerjaannya.

Ingat bait di lagu Oemar Bakri – Bang Iwan Fals, “Jadi guru jujur berbakti memang makan hati. Sepertinya Bang Iwan sudah mengetahui bahwa betapa sulinya menjadi guru. Terutama di Negara ini. Guru merupakan pendidik kita, pembimbing kita, pengajar kita, pelatih kita, yang mengarahkan kita dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak tahu menjadi tahu, kasarnya dari bodoh, bego, bloon menjadi pintar, pandai, cerdas.

Masa Depan Indonesia Di Pundak Guru

Tidak itu saja, tugas guru yang lebih utama (ini pendapat saya) menjadikan yang “diajar “ menjadi bermartabat, beretika, bermoral dan berbudi pekerti. Tanpa itu semua, pintar, pandai, cerdas tidak akan berarti apa-apa jika tidak bermoral, tidak beretika dan berbudi pekerti.

Kasus-kasus guru di meja hijaukan, di sel, di penjarakan hanya karena menghukum murid dengan mencubit, menjewer, atau lainnya sejauh tidak mencelakakan murid sebenarnya untuk mendisiplinkan murid membuat perasaan ini sangat sedih. SEPELE !!! (sekali lagi, saya abaikan dulu masalah guru bejat, ganjen, gatel atau apapun)

Jaman saya era 2000an ke bawah, saya merasakan peran guru yang benar-benar mulia. Saya ingat betapa hebatnya guru-guru saya yg berjibaku untuk hadir datang ke sekolah karena tidak mau anak didiknya riuh karena jam pelajaran kosong. Padahal pada saat itu “jarak” Bekasi-Rawa Mangun sangatlah jauh, atau semasa saya bersekolah di Pontianak, jarak Siantan ke Jeruju ditempuh guru saya dengan rasa tanggung jawab. Ya, hanya karena tak ingin anak didiknya mendapatkan pelajaran kosong.

Saya ingat guru biologi di SMP, pak Suratno (thanks pak for struggle, strength and your pain). Beliau guru paling luar biasa. Keadaan hidup dengan 1 ginjal, beliau mampu mengantarkan anak didiknya bermartabat semua.

guru-mengajar

Dengan pecutan rotannya, ayunan gagang sapunya, libasan penggaris kayu yang hinggap di tangan, kaki dan setiap jengkal tubuh kami, laki-laki atau perempuan mampu mengantarkan murid didiknya rata-rata menjadi manusia.

Pak Syamsul Bahri (alm) guru bahasa Inggris di SMP, dengan tamparannya jika tidak bisa melakukan percakapan bahasa Inggris mampu mengantarkan muridnya bisa menguasai bahasa asing. Terutama saya untuk membalas email di kantor.

Bu Afani di SMEA, dengan kesabarannya mengajarkan akuntasi biaya. Pak Eha yang tekunnya mengajarkan kami menjadi manusia yang percaya diri. Dan guru-guru lain yang pernah menjadi “pelita” saya & teman-teman untuk menapaki kehidupan ini.

Jika beliau-beliau “diturunkan” pada jaman sekarang ? Mungkin pak Suratno + pak Syamsul sudah dipenjara atau mungkin di aniaya atau dikeroyok atau….

kemuliaan-menjadi-seorang-guru

Hanya karena guru menjewer bisa berakhir pengadilan Sidoarjo. Hanya karena murid mendapat tindakan disiplin dari guru bisa berakhir mendapat tindakan kekerasan di Makassar. Hanya karena memukul dengan penggaris untuk mendisiplinkan anak didiknya akhirnya ke pengadilan di Bayuwangi. Hanya karena mencukur rambut muridnya yang gondrong, sang guru di Majalengka berurusan dengan hukum. Guru mencubit murid yang bermain air sisa pel masuk sel di Bantaeng. Guru memukul murid karena gaduh masuk penjara juga di Bantaeng.

Ada apa ini, apa murid generasi sekarang yang “cengeng” ? kemudian, apakah para orangtua jaman sekarang ‘lebay”?

Sungguh menakutkan menjadi guru sekarang ini, mereka mendidik sambil dihadapkan hukum pidana. Berhasil atau tidaknya guru mengajar, tergantung perilaku anak didiknya. Perilaku anak didiknya tidak lepas pengaruhnya dari orang tua dirumah.

99301141360guru-SD

Seorang guru adalah manusia, yang memiliki segala keterbatasan. Luar biasanya guru, di satu sisi mereka dihadapkan masalah pribadi mereka, di sisi lain mereka dihadapkan dengan 1001 perilaku  murid.  Seorang guru ada yang sabar ada yang tidak, manusiawi. Mereka memiliki keterbatasan. Ingat !!! Ditengah keterbatasan mereka, guru dituntut mencetak PENERUS MASA DEPAN KELUARGA, PENERUS MASA DEPAN DAERAH, PENERUS MASA DEPAN BANGSA !!! Adilkah perlakuan kita kepada guru ???

–oOo–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s