CORATCORETCARUT

PEMIMPIN YANG SANTUN

Jumat, 21 Oktober, ceritanya sih lagi santai abis isya nonton berita di tipi. Biasaaaa…yang asik mah ngeliat berita pilkada Jakarta. Pencet saluran Kompas, simak sebentar lalu iklan. Pindah saluran ke i-news, simak sebentar lalu iklan. Pindah ke TVOne dan seterusnya hingga MetroTv.

Sedikit keganggu dengan kedatangan anak saya dan temen cowoknya. Biasalah basa-basi blah-blah-blah sampai nyenggol pilkada Jakarta. Temen anak saya ini agak pro dengan calon yg diusung partai Islam, dan biasalah…omongannya jadi rada2 berbau sorga gitu.

Masih dalam koridornya, mulai nyenggol Ahok.

“Menurut om gimana sih dengan videonya Ahok ?”, mungkin mau tau gimana sikap saya atau mau ngetes atau jajal elmu atau emang bener2 mau tau.

Sebut saja nama cowok temen anak saya ini si-Bro.

“Bro, terus terang saya anggap itu bukan penistaan agama. Itu bisa dilihat dari kata2 dan konteksnya Ahok berbicara. Saya sudah tonton video tersebut full tanpa dipotong. Seandainya video tersebut tidak berupa potongan2 dan paham dengan kata2 yg di keluarkan Ahok tentu tidak akan heboh. Kamu udah liat ful videonya ?”, kata saya

“Udah sih om, tapi itu tetap aja penistaan agama”, kata si Bro

“Gitu ya ?, dimana penistaannya ?”, kata saya

Diuraikanlah masalah penistaan tersebut oleh si Bro.

ahok-agama-dan-pembenci

Kemudian saya katakan lagi kepada si Bro,” Yah kalo dilihat dari perkataan Ahok saya simpulkan bahwa Ahok itu sebenarnya mengedukasi warga agar jangan mau dibohongi oleh orang2 yg membawa ayat Al Maidah…dan bukan ayat Al Maidah-nya yang bohong dan malah Ahok menempatkan ayat suci secara sacral dan tidak dijadikan sebagai alat kampanye yg mendeskreditkan”.

“Jika orang2 menyimak video tersebut dengan kebencian, yaaaa tafsirannya akan negative, akhirnya banyak yang gagal paham dan lihatkan hasilnya ?”, lanjut saya

“Iya sih om, saya juga sudah sudah nonton, berulang-ulang, saya paham maksud om”, ujar si Bro dengan nada gak rela.

“Saya mau tanya om … kalo pemimpin mempunyai sikap tidak santun dimata masyarakat gimana om? sementara yg kita tau kan pemimpin itu sebagai teladan bagi masyarakat itu sendiri …”, Tanya si Bro lagi

“Pemimpin itu sebagai teladan bagi masyarakat. Saya setuju banget !!!”, kata saya

“Tapi kamu bilang ‘dimata masyarakat’, Masyarakat yang gimana ? Masyarakat yg dimana? masyarakat siapa ? Masyarakat pesenan parpol ? Masyarakat pesenan kelompok ?”,lanjut saya sambil melontarkan pertanyaan ke si Bro.

“Maksud om…?”, Tanya si Bro bingung

“Iya, kalo kita hanya bisa menilai dari penilaian masyarakat, yah ga obyektif dong. Saya lebih suka mengenali orang tersebut lalu barulah saya nilai”,

meme-santun-sejati_20160401_170549

“Maksud om, om kenal sama si Ahok ?”, kata si Bro

“Ya ga gitu, kenali pemikirannya, tulisannya, ulasannya, kerjanya, lalu komparasikan. Kita bisa lihat di webnya, medsos-nya. Komparasikan dengan pemahaman kamu, secara agama gimana, secara sosial gimana atau coba2 diskusi dengan teman bla-bla-bla yaaah banyak caranya utk mengenali pemikiran seseorang, apalagi seorang tokoh. Tapi buang jauh2 fanatisme agar hati kita netral dan lebih memahami tokoh tersebut….”, kata saya.

“Nah kalo sudah kenal tapi pemimpin tersebut mempunyai sikap tidak santun ?”, kata si Bro mulai agak kesel

“Bagi saya, kalo yg kamu maksud tidak santunnya cuma sekedar ‘bacot’ nya aja yg kaya WC, saya rasa itu bukanlah satu-satunya suatu ukuran santun atau tidak santun. Sekali lagi…konteksnya pada saat itu Ahok sedang ngomongin apa ? Terkadang penafsiran atau penilaian orang per orang pribadi selalu dijadikan sebagai ‘pendapat masyarakat’ dan akhirnya menjadikan penilaian yang subyektif. Orang bego pun kalo di ojok-ojokin dengan pendapat kita agar setuju dengan kita, maka akan menjadi pendapat yg banyak (lebih dari 1 orang).

Begitu halnya jika seorang pemimpin ormas yg memiliki massa mengeluarkan pendapat/penilaian/penafsiran terhadap seseorang kemudian pendapatnya tersebut ‘dilemparkan’ kepada pengikutnya, sudah pasti pengikutnya akan meng-iya-kan pemimpinnya…jadilah ‘penilaian masyarakat’. Sekali lagi yang terjadi adalah bukan penilaian masyarakat, malah penilaian ormas ?” Kata saya.

kebodohan-adalah-musuh-terbesar-manusia

Disitu si Bro agak terdiam.

“Sampai kapan kita bisa dewasa dalam menyikapi hal tersebut. Kesantunan itu Perlu !!! namun yang bagaimana ? Banyak yg bisa diteladani dari seorang Ahok: Berani, Tegas, Transparan, non kepentingan, berani melawan arus bla-bla-bla, kalo masalah ‘bacot WC’ bin sampah yaaa jangan diteladanin dooongg…dewasa dalam berpikir, cerdas menyikapi…”, kata saya lagi.

“Kalo mau pemimpin yang santun, cukuplah bagi saya Rasulallah sebagai teladan,” tambah saya.

“Oh gitu ya om…”, jawa si Bro kurang puas

..wallahu alam…

–oOo–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s