ESAI

AGAMA ATRIBUT

inilah-fatwa-lengkap-mui-ahok-terbukti-menghina-ulama-dan-menghina-al-quran

 

Peci hitam atau putih, jubah dan sejedah dibuat manusia. Semua itu identik dengan agama Islam, ada yang menyebutnya sebagai atribut.

Topi Santa yang merah putih dan pohon Natal yang berlampu warna warni adalah aksesoris umat Kristiani saat merayakan hari Natal. Itu juga buatan manusia.

Umat penganut agama selalu punya atribut yang menunjukkan ciri dan wajah mereka yang khas. Ada yang memaknainya sebagai semata simbol dan atribut, ada yang menempatkan pada wilayah suci yang pemaknaannya sangat religius.

Makna simbolik atau religius sesungguhnya tidak memiliki batasan pengertian yang pakem. Karena yang simbol itu hanya benda (materi) yang bisa dengan mudah direkayasa. Bagaimanapun, simbol tak bisa dengan sempurna menerjemahkan makna di baliknya. Orang yang bukan beragama Islam bisa saja memakai peci dan jubah.

Sementara makna religius lebih rumit lagi pembahasannya, karena ini terkait dengan kualitas kedekatan dengan Sang Pencipta, ini wilayah sakral. Meski begitu, orang-orang pintar berpendapat bahwa buah dari religiusitas seharusnya terlihat dari sikap dan perilaku.

berita-penggunaan-atribut-agama-paksa-karyawan-langgar-ham-36211_aNah, apakah memakai atribut bisa menjadi ukuran tingginya iman? Saya rasa tidak. Bagaimana kalau atribut yang mengidentikkan agama itu diberi hak paten? Hmm…, bisa saja, tapi itupun memerlukan waktu yang lama, karena lazimnya atribut juga dipengaruhi oleh budaya dan sejarah setempat.

Peci hitam identik dengan Islam Indonesia. Jubah dan gamis itu dari Timur Tengah, yang juga dipakai oleh non muslim di sana. Sedangkan cerita topi Santa dan pohon Natal justru lahir bukan di tempat diturunkannya agama Kristen.

toleransi-yang-tercoreng

Jadi, hemat kepala saya, agama tidak bisa diukur dengan atribut. Karena, atribut adalah buatan manusia yang bisa dipakai oleh siapapun, dan bisa diproduksi massal sesuai permintaan. Atribut juga sangat dipengaruhi oleh sejarah dan budaya manusia pemakainya.

Nah, sahabat sahabat yang ada di MUI harusnya memikirkan hal ini. Mengeluarkan fatwa tanpa menimbang banyak aspek, sama saja dengan menggiring umat ke dalam kekacauan. Bukankah tujuan fatwa untuk mencari solusi demi kemaslahatan kehidupan umat?

Sahabat sahabat MUI mungkin butuh refresing atau semacam studi banding, seperti yang sering dilakukan kawan kawan di DPR.

 

by : Jeffrey Cat/Facebook

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s