AGAMA · ESAI

…AKHLAKMU

coc-zk1uwaah3ns

 

Ini status dari fb-nya temen: brader Atet Lukmanul Hakim;

Cerita dari Ajengan Cecep (dari pondok pesantren Singaparna, Tasikmalaya). Kata Ajengan Cecep, ada seorang ajengan yang sudah maqam wali di Cianjur. Kalau melihat beliau, orang tidak akan nyangka tingkat spiritualnya sudah tinggi (maqam). Karena beliau sering memakai celana jeans dengan setelan pakai topi koboi, bahkan pernah mengisi ceramah dengan sengaja sedikit disalahkan. Tujuannya sengaja, orang memandangnya tidak memuliakan, pujian dan biar jadi ujian. Beliau tidak butuh pencitraan yang atas nilai manusia. Beliau dikenalnya sebagai ahli shalawat. Shalawat beliau dengan kita berbeda, kita bershalawat baru sebatas ingin syafa’at, sedangkan beliau bershalawat dengan hati, karena kecintaan kepada Baginda Nabi Muhammad SAWW.

Saking sabarnya, warga yang mengenalinya ingin sekali dimarahi atau sekalipun ditampar. Pernah beliau berjalan-jalan, di depan Ajengan ada tukang es cendol. Tanpa sengaja, es cendolnya kesenggol hingga tumpah. Karena tukang es cendol ini mengenal Ajengan, bukannya marah malah berterimakasih dan pulang ke rumah langsung syukuran. Es cendol ini laku keras dan banyak cabangnya, yang sekarang dikenal dengan es cendol Elizabeth.

Nama Elizabeth lantaran es cendolnya suka mangkal didepan supermarket Elizabeth.
Pernah beliau berkelana dari satu tempat ke tempat lain. Suatu waktu, beliau kelelahan istirahat nyender di pohon kelapa. Ada sekelompok semut merah datang ke baju beliau, lalu terbangun. Kelompok semut pada berlarian. Kemudian Ajengan Cianjur ini melanjutkan perjalanannya hingga jauh. Tersadar, ada salah satu semut ikut terbawanya dan Ajengan berhenti sambil mikir. Ini semut sumbernya dari mana kok bisa ada di baju. Kemudian beliau teringat, tempat peristirahatan terakhirnya, di pohon kelapa. Tanpa berpikir panjang, beliau balik lagi. Karena beliau takut mendzolimi semut ini. Siapa tahu semut ini punya anak dan keluarga.

Apakah kita bisa seperti beliau? Jangankan ke binatang, ke sesama manusia saja dengan sengaja ataupun tidak suka mendzolimi. ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜๐Ÿ˜›๐Ÿ˜œ๐Ÿ˜

Orang-orang tua dulu itu memang tidak sepintar anak-anak sekarang, tapi mereka cerdas dalam hal rasa (kepekaan terhadap lingkungan). Apapun yang dikerjakan selalu berhati-hati, meminta izin kepada mahluk lain. Dikhawatirkan akan mendzolimi tidak sengaja mahluk disekitarnya. Makanya orang tua dulu ucapan dan doanya lebih tajam.

Rasulullah SAWW bersabda: “Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” dan seperti yang dikatakan Imam Ja’far Ash-Shadiq as, “Jika anda ingin mengetahui kedalaman agama seseorang, janganlah lihat dari betapa banyaknya ia Shalat, Puasa dan Tadarus, melainkan lihatlah bagaimana ia memperlakukan orang lain.”

Maka dari itu, esensi dari Islam adalah akhlak. Hilang akhlak hilanglah Islamnya. Meski kau sujud seribu kali, tanpa akhlak kau bukan seorang Muslim. Sungguh ironis apabila ada seorang Muslim yang menghalalkan kedzaliman,…

Selamat Hari Natal buat saudara-saudara Kristiani kami dan selamat Tahun Baru 2017, buat kita semua..

–oOo–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s