ESAI

SEDIH ?…YA SEDIH !!!

cak-nun

 

Emha Ainun Najib pernah ngomong (bukan sama saya sih….), umat Islam jangan mudah diperdaya oleh elit politik untuk digunakan kepentingan politik kekuasaan, terlebih dengan “kepolosan” umat yang diarahkan dalam kancah politik praktis (…disebuah diskusi di Melbourne, 1992).

Mungkin, dalam penerawangan saya, perkataan Cak Nun ini dikarenakan melihat mudahnya umat Islam “terkompori” oleh politisasi agama. Artinya umat hanya dijadikan alat politik kepentingan. Jika para elit ini sudah mencapai tujuannya, yaaa…makasih, dilupakan. Tau sejarah berdirinya Ef-Pe-I ?….cari tau deh….nah seperti itu.

Ef-Pe-I dirasa masih bermanfaat pada saat ini, terutama saat musim pilkada. Jika tidak musim pilkada, mungkin mereka “melacur” sendiri mencari masalah.

Kembali ke leptop…

Kekuatan umat yang terlihat adalah sekedar “banyak”-nya saja, inilah yang kemudian di-“setir” sisi emosional-sensitipitasnya sebagai alat pengganjal lawan politik si-elit. Berbeda jika kekuatan umat terletak pada “kualitas” pola pikir, para elit akan berpikir panjang untuk menjadikan umat sebagai “alat” politiknya.

Pada kenyataannya “kecerdasan” (baca: kelicikan) elit, mampu mengalahkan jumlah umat untuk dikuasai. Sentil aja dengan masalah penodaan, penistaan & penghinaan agama. Keluarlah fatwa sana dan fatwa sini, FATWA WAR !!! Umat yang menjadi tumbal.

Umat terpecah, ada pendukung yang agamis, pendukung nasionalis, pendukung idealis, pendukung logis…ataupun tukang teralis…

Tidak salah jika ada yang mengatakan,”seharusnya umat Islam itu belajar dari kedewasaan umat Nasrani dalam berpolitik dan Bergama”. Saya tidak akan menyenggol masalah klasik “kristenisasi”lah atau apapun sebab saya punya Allah yang melindungi agamaNya. Umat Nasrani tak mau terkotak-kotak pada masalah politik, walaupun mereka juga terbelah-belah (protestan, katholik, advent, pantekosta dll…..maaf jika keliru).

Awal era reformasi mereka memiliki partai yang berasaskan Nasrani untuk menyalurkan hal politiknya…dan kalah, setidaknya umat Nasrani belajar arif menyikapi semua itu, mereka tak merasa terbebani. Merekapun bebas bisa memilih ini itu sesuai dengan apa yang menjadi keyakinan untuk menyalurkan hak politik. Bisa parta kuning, partai biru atau pasta merah.

bebek

Dalam Islam memang ketat dalam memilih pemimpin dan itu sudah jelas (..kalau mazhab yang saya yakini sudah sangat jelas aturan memilih pemimpin/Imam). Namun sangat disayangkan umat Islam sangat boros dalam berpartai, tak usah dijelaskan yaaa…Dan lebih disayangkan lagi partai Islam itu TIDAK PERNAH MENANG !!!

Seharusnya elit partai Islam sadar, umat terkotakkan. Janganlah menjadikan umat menjadi alat politik untuk saling menjatuhkan.

Alih-alih untuk menyatukan umat, sekarang ini umat Islam Indonesia sedang krisis kepemimpinan, KRISIS TOKOH !!!, Tidak ada tokoh Islam yang sentral di Indonesia, tokoh yang menjadi rujukan, tokoh yang bisa diteladani, tokoh yang bisa menengahi.

Sedih…ya sedih…

 

–oOo–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s