ESAI

KETIKA NIKMAT AKAL DIANGKAT

pendengkulan

 

Ketika kita terlalu “haus” pada manisnya dunia ini, terasa tidak akan habisnya dahaga yang dirasa. Bahkan hingga kita lupa dengan “kehidupan” lainnya.

Hiruk pikuk keinginan mimpi membawa nafsu kita menguasai diri, dan akhirnya merubah kita layaknya menjadi binatang, bahkan lebih rendah dari binatang.

Kelicikan-kelicikan kita perbuat, kebuasan dari tindak tanduk kita menghilangkan akal kita. Ini demi keinginan dan mimpi tersebut.

Sebenarnya, nikmat inilah yang dihilangkan Allah kepada kita, nikmat “makhluk berakal”. Ketika materi menjadi bernilai, disitulah akal tidak bernilai, dan disitulah kita menciptakan berhala baru bagi kita.

Ketika kenikmatan akal diangkat, bersama dengan itu pula proses “penyembuhan”-nya diturunkan melalui beberapa “ujian” dan “peristiwa”. Prosesnya ujian tersebut tergantung penyakit kita. Ujian sakit, ujian keluarga, ujian materi dan lain-lain.

Mampukah akal kita me-“refresh” itu semua. Mampukah akal kita menangkap bahwa semua itu adalah “penyembuhan” dari Allah. Mampukah akal kita menemukan hakikat kehidupan sebenarnya.

Mengawali 2017, kita mulai dengan mensyukuri Nikmat Akal yang masih diberikan Allah untuk berpetualang mencari nikmat lain yang sudah Allah turunkan.

“Ketika Tuhan hendak menghilangkan nikmat pada hambaNya, maka pertama kali yang akan dihilangkan adalah nikmat akalnya..” Imam Ali as

Wallahualam…

 

–oOo–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s