ESAI

KEPRIBADIAN IMAM KHOMEINI

575850838_preview_smiling-khomeini2

Ketika Iran menjadi tuan rumah konferensi tentang “Perempuan dan Revolusi Islam”, para peserta diberi kesempatan untuk mengunjungi rumah Imam Khomeini. Di bawah ini adalah kesan-kesan dan reportase Khadijah, salah seorang peserta kunjungan ini.

Inilah   mimpi   yang   jadi   kenyataan.   Suatu   keistimewaan   yang   langka   untuk   bisa   berada   di kediaman   Imam.   Setelah   lewat   permohonan   berkali-kali,   akhirnya   suatu   malam   kami diberitahu   bahwa   besok   pagi   kunjungan   ke   rumah   Imam   telah   diatur.   Karena   perasaan penuh-harap, tampaknya tak ada yang bisa tidur malam itu.

Esok paginya, salju turun. Untuk bisa mencapai rumah Imam, kami harus menunggu jalanan dibersihkan   dari   salju   yang   menumpuk.   (Kebetulan   penyunting   berkesempatan   juga   untuk mengunjungi rumah  Ayatullah  Khomeini di tempat  yang sama,  juga di suatu musim  salju, tapi setahun setelah wafatnya sang Imam –Ym.) Di depan rumah Imam, sudah menunggu dalam   dingin   yang   menusuk   kerumunan   besar   orang   yang   juga   ingin   menemui   pemimpin mereka. Ada juga para wartawan asing dan dalam negeri di sana. Penglihatan mereka tetap menatap pintu gedung pertemuan Jamaran –yang di sebelahnya terletak rumah-kecil Imam– yang darinya Imam akan keluar.

1-121

Tiba-tiba, benar, Imam muncul dari situ! Orang-orang pun menjerit dalam tangisan, sambil mengucapkan   “Allahu   Akbar”   berkali-kali.   Maka   Imam   pun   duduk   diam.   Di   sebelahnya duduk juga  Ahmad, puteranya.  Saya dan  Imam  hanya  dipisahkan  oleh  jarak kira-kira satu meter saja, sehingga saya bisa menatapnya dengan jelas. Seluruh raut wajahnya menunjukkan ketenangan   dan   kedamaian-batin   yang   sempurna.   Melihat   air-mukanya   yang   bening,   saya merasa seperti berada di dunia lain. Hanya matanya mengungkapkan kenyataan bahwa dia benar-benar hadir di tengah-tengah kami.

Memasuki rumah Imam adalah kejutan yang lain buat kami. Pintu-depannya adalah pintu- besi sederhana. Di dalamnya terhampar halaman kira-kira sepanjang enam meter. Rumah itu memiliki   tiga   ruangan.   Di   dalamnya   ada   kasur   dan   sandaran-duduk,   dan   sofa   sederhana tempat Imam duduk dan tidur.

1401833894_5

Dapurnya   memanfaatkan   ruangan   di   bawah   tangga.   Ada   juga   satu   ruangan   kecil   tempat Imam membaca, shalat, dan mendengar berita. Di dalamnya ada juga kursi, meja kecil, dan beberapa   rak   buku.   Para   wartawan   asing   yang   ada   di   sana   tampak   tak   dapat menyembunyikan   ketercengangan   mereka   melihat   kesederhanan   rumah   Imam.   Lebih tercengang lagi mereka ketika melihat makanan sang Imam hanya terdiri dari kentang rebus, sebutir jeruk, dan sekerat roti. Mereka bertanya kepada isteri Imam, “Di mana Anda tidur?” Isteri Imam menjawab polos, “Persis di tempat kami duduk sekarang.”

Kemudian   isteri   Imam   mengisahkan   kehidupan   sehari-hari   suaminya:   “Ia   biasa   tidur   dari pukul   sembilan   malam   hingga   pukul   dua   dini   hari,   yakni   ketika   ia   bangun   untuk   shalat malam.   Dia   pun   meneruskan   shalat   sunnah   nawafil-nya   hingga   terdengar   azan   Subuh. Setelah   shalat   Subuh,   ia   biasa   menunggu   hingga   terbitnya   matahari.untuk   sarapan   pagi bersama   keluarganya   –isterinya,   dua   anak-perempuannya   (yang   salah-satunya   kehilangan suami sebagai syahid di medan perang melawan Irak), puteranya Ahmad, dan dua cucunya. Dia   selalu  makan   bersama   mereka,  dan   tak  pernah   sendirian.  Setelah   itu  ia  akan   pergi  ke kamarnya untuk mendengar berita dan membaca koran.

“Pada jam sepuluh pagi ia biasa menerima para pejabat pemerintahan dan para tamu lainnya hingga tiba waktu shalat Zhuhur. Lalu biasanya ia beristirahat sebentar sebelum makan siang, kemudian berjalan-kaki selama kira-kira sejam setelah itu. Kadang-kadang di siang hari itu juga ia menyempatkan diri berkumpul bersama keluarganya.

1-123

“Sejak   awal-pernikahan   kami,   ia   tak   pernah   menyuruhku   mengambilkan   sesuatu.   Jika   ia membutuhkan   sesuatu,   ia   menyampaikannya   secara   tidak   langsung.   Misalnya,   jika   dia membutuhkan   gamis,   dia   akan   berkata,  “Adakah   gamis   di   rumah   ini?”   Dengan   begitu   aku paham bahwa ia butuh gamis, dan aku pun mengambilkannya untuknya.

“Dia   ‘memaksa’   untuk   mempersiapkan   sendiri   segala   sesuatu   yang   dibutuhkannya: mempersiapkan   makanannya,   minumannya,   dan   mencuci   sendiri   gelas-gelas   dan mengembalikan   ke   tempatnya.   Jika   ada   sesuatu   yang   tidak   beres,   dia   membetulkannya sendiri.

3229189_236

“Suatu   kali   ia   berada   dalam   suatu   pertemuan   dengan   para   pejabat   negara.   Tiba-tiba   ia menyadari   bahwa   lampu   di   ruangan   sebelah   masih   menyala.   Dia   pun   bangkit   menuju ruangan itu, mematikan lampu, dan kembali ke tempat pertemuan. Orang-orang tercengang dengan perbuatan Imam.

“Suatu   kali   orang   melihat   ia   berupaya   memisahkan   selembar   tissue   yang   terdiri   dari   dua lapisan. Ketika salah seorang yang hadir memintanya untuk menggunakan kedua-duanya ia menjawab, ‘Saya hanya butuh selapis.’

“Ia   menyukai   makanan   yang   paling   sederhana,   dan   tak   makan   dari   beberapa   makanan sekaligus.   Dia   makan   hanya   untuk   bertahan-hidup.   Amat   teratur   hidupnya.   Imam   amat menghargai perempuan.

Contohnya,   ketika   para   cucunya   mengunjunginya,   dia   tak   lupa   untuk   menyuruh   mereka pertama kali menemui neneknya dan mencium tangannya. “Tak ada pembantu rumah-tangga di   rumah   Imam.   Para   tamu   biasanya   dilayani   oleh   keluarga   Imam.,   biasanya   kedua   anak- perempuannya, yang tak mengizinkan  ibunya untuk melakukan apa-apa, hanya demi ingin membuat hidup si ibu senyaman mungkin.”

3229188_804

Begitulah.   Di   rumah   Imam,   kami   benar-benar   seperti   di   rumah   sendiri,   seolah-olah   kami berada ditengah keluarga sendiri. Kami merasa aman dan tenteram. Maka kami pun merasa amat sedih ketika harus meninggalkan Imam dan keluarganya. Keluarga ini telah membuat kami merasa bahwa mereka adalah cerminan-hidup ajaran-ajaran Al-Qur’an.

sumber: Wasiat Sufi – Abatasya.net

 

–oOo–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s