AGAMA · IMAM AB · NASIHAT

KETERGANTUNGAN MANUSIA KEPADA ALLAH

allah

Ahmad Khomeini, Anakku! Semoga Allah menganugerahkan hidayah-Nya kepadamu. Entah dunia   ini   kekal   dalam   waktu   atau   tidak,   dan   entah   rantai   kemaujudan   dan   berujung   atau tidak,   semua   kemaujudan   itu   faqîr   (bergantung   kepada   sesuatu   yang   lain)   karena   mereka bukannya   ada   dengan   sendirinya.Jika   kau   amati   segenap   rantai-tak-berujung   kemaujudan dengan cahaya akal, kamu akan mendengar jeritan kebutuhan dan kebergantungan (esensial) —untuk adanya mereka maupun penyempurnaan mereka. Mereka mengakui kebergantungan (mereka) kepada Yang Ada Dengan Sendirinya (dan) Yang Kesempurnaan-Nya adalah Milik- Nya Sendiri. Jika dengan suara akal engkau berbicara kepada rantai kemaujudan yang (secara esensial)   bergantung   itu,   dan   bertanya   kepada   mereka:   ”Wahai   kemaujudan   yang   faqîr, siapakah   gerangan   yang   mampu   memuasi   kebutuhanmu?”   maka   mereka   seluruhnya   akan secara serempak menjerit dengan lisan fitrah mereka, “Kami butuh akan suatu Wujud yang tak bersifat faqîr seperti kami, dalam hal keberadaannya maupun kesempurnaannya.”

Bahkan, lebih dari itu, fitrah mereka pun (sebenarnya) bukan milik mereka: Fitrah Allah yang atasnya   Dia   menciptakan   manusia.  Tak   sekali-kali   ada   perubahan   dalam   (alam)   ciptaan  Allah. (QS Al-Rûm [30]:30).

Fitrah tauhid adalah dari Allah, dan apa saja yang dalam-dirinya bersifat bergantung (al-faqîr  bi al-dzat) tak akan bisa menjadi serba mencukupi-diri (ghani bi al-dhat). Perubahan seperti itu   adalah   sesuatu   yang   mustahil.   Dan,   karena   mereka   (secara   esensial)   bergantung   dan membutuhkan, tak ada—kecuali Dia Yang Mencukupi-Diri—yang dapat mengatasi kebutuhan dan   kepapaan   mereka.   Karena   kepapaan   ini   bersifat   esensial   bagi   mereka   dan   tak   akan pernah   bisa   di   atasi—entah   rantai   (kemaujudan)   ini   memiliki   awal   (abadi)   dan   kekal   atau tidak.   Dan,   tak   ada   sesuatu   pun   selain-Nya   yang   dapat   memuasi   kebutuhan   mereka. (Karenanya) apa pun yang memiliki keindahan dan kesempurnaan, kedua sifat itu bukanlah miliknya,   melainkan   pengejawantahan   Kesempurnaan   dan   Keindahan-Nya.  …dan   kalian  tidak melempar ketika kalian melempar, tetapi Allahlah yang melempar. (QS Al-Anfâl [8]: 17)

Hal   ini   benar   berkenaan   dengan   semua   tindakan,   ucapan,   dan   perbuatan.   Seseorang   yang menangkap fakta ini dan memahami (secara intuitif) kebenaran ini tak akan terikat dengan siapa   pun   kecuali   Dia  dan   tak   akan   meminta  apa-apa  dari   siapa  pun   kecuali  Dia.  Cobalah menyelam ke dalam kilatan Ilahi ini dalam kesendirianmu dan bisikkan ke dalam telinga sang bayi yang ada di hatimu. Ulang-ulangilah hingga dia membuka lisannya untuk berbicara serta sinarnya   menerangi   wilayah   jasadi   (mulki)   dan   nirbendawi   (malakut)   kemaujudanmu. Ikatkan   dirimu   kepada   Yang   Mencukupi-Diri   Secara   Mutlak   agar   engkau   dapat mencampakkan apa-apa yang selain-Nya. Kejarlah kemenangan persatuan (wushul) dengan- Nya   agar   Ia   membebaskanmu   dari   apa   saja   termasuk   dirimu   sendiri,   (dan   kemudian   Ia) menerimamu dalam hadirat-Nya, serta mengizinkanmu untuk masuk (ke dalamnya).

sumber: Wasiat Sufi – Abatasya.net

–oOo–

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s