CORATCORETCARUT · ESAI

RADIKALIS MINIMALIS

pahlawan-wahabi

Kalo dirasa, sepertinya kelompok radikal bergerak tenang, lembut dengan sedikit tokohnya yang “setor muka”. Makanya kelompok mereka sangat minimalis namun taktis. Tokoh radikal yang suka setor muka….. yunolaaah itu siapaaa. Yang sekarang lagi sering di tipi.

Sebenernya, kita harus menyadari bahwa kelompok yang radikalis sudah mulai “bermain cantik” menguasai panggung politik yang cukup membuat kegaduhan akhir-akhir ini. Ya, bermain cantik ?

Kaki kanan mereka bermain dengan menggandeng kelompok “sakit hati” dari peristiwa pilpres. Tak perlu ikutan partai, ya cukup kongkow, sowan atau nongkrong bareng. Dalam kumpul-kumpul inilah mereka menggelar opini-opini yang bisa dijadikan isu dan fitnah. Mulai masalah korupsi, penggusuran, reklamasi, komunisme, kapitalisme, liberalisme sampai penistaan.

Kaki kiri mereka bermain dengan membenturkan ideologi negara dengan pemahaman agama yang tekstual. Mereka lemparkan opini “toghut”, mereka serang ke-Bhinnekaan, mereka abaikan Pancasila, mereka suarakan JIHAD dan lainnya.

Indonesia adalah negara yang memiliki banyak etnis, beragam agama dan banyak budaya. Mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam dengan menganut sistem demokrasi yang berideologi Pancasila. Artinya kekuatan dari lima sila itulah yang menyatukan Indonesia. Makanya kelompok radikal ini harus mematikan dan memutus terlebih dahulu pemahaman Pancasila di masyarakat dengan melempar fitnahan-fitnahan bahwa Pancasila tidak sesuai dengan syariah Islam.

Dengan pemahaman ajaran Islam yang tekstual dan kaku, kelompok radikal ini menganggap Pancasila merupakan ajaran di luar Islam. Padahal jika mereka mengkaji dan belajar lebih dalam mengenai Pancasila maka akan ditemukan bahwa Pancasila sangat sejalan, sesuai dan senafas dengan Islam. Sila per sila dalam Pancasila sangat sesuai dengan ajaran Islam, ajaran dalam Quran dan tidak bertentangan.

Kelompok radikal ini mengabaikan aktualitas yang ada dalam masyarakat bahwa Indonesia terdiri dari “beragam”. Aktualitas bahwa negara ini terbentuk dari adanya saling menghargai dan menghormati. Aktualitas bahwa negara ini terbentuk atas perjuangan bersama dan bukan dari golongan tertentu. Aktualitas bahwa negara ini ada karena usaha saling bahu membahu sesama warga. Tidak ada mayoritas, tidak ada minoritas, BERSAMA-SAMA.

Kelompok radikal ini hanya menyandarkan pada TEKS, secara tekstual paham mereka benar, secara tekstual hanya Islam yang benar, padahal aktualnya ada paham lain, ada agama lain, ada orang lain, kita beragam. Mereka beragama hanya mengambil kulit dan bukan isi.

Ini adalah tantangan bagi kaum keberagaman.

Imam Ali Bin Abi Thalib as berkata “Jika ingin menghancurkan sebuah agama, maka giringlah orang-orang bodoh dalam membela agama tersebut”. Kita harus membangunkan keluarga kita, menyadarkan mereka bahwa kita harus memerangi kelompok radikal minimalis ini.

Arusnya semakin deras….

–oOo–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s