CORATCORETCARUT · ESAI

MUNGKINKAH ATEIS MENJADI PILIHAN ?

Saat ini kita disuguhkan peristiwa2 entah konyol akan tetapi nyata, seorang intelektual tokoh cendikiawan agamis membela mati-matian seseorang yang bisa menggandakan uang. Padahal secara akademis dia memiliki gelar Profesor. Orang awam pun tahu kalo orang yang sudah bergelar professor maka pemikirannya akan rasional ketimbang klenak-klenik. Betul, ini adalah professor yang intelektual dan dikenal sebagai cendikiawan muslim, amajing kan ?

Lagi hot banget (ini sih katanya masih hoax) seorang yang katanya keturunan nabi dan tokoh penomenal pemimpin ormas esek-esekan di WA sampai betjek-betjek plus ada gambarnya pula…walau masih hoax namun sebagian orang mempercayainya karena yang menjebol esek-esek tersebut ANONYMUS. Itu tokoh agama…

Dengan tokoh yang sama dengan rasa bangga dan berbinar-binar mengungkapkan adanya kebangkinan PKI lewat beredarnya uang baru RI. PKI wajar diwaspadai, namun paranoid terhadap komunis untuk konteks hari ini adalah tidak wajar, karena realitas dunia global saat ini adalah tidak relevan. Bukankah saat ini paham kapitalis sangat tren sampai-sampai negara Arab mengadopsi paham ini dengan bungkus “khilafah” walau tidak mengakuinya. Itu tokoh agama dengan ke-parnoannya.

Baru-baru ini juga OTT korupsi dengan tokoh yang dikenal juga rekat dengan identitas agamanya, lalu merasa terzolimin atau apapun alasannya.Kemudian di skala internasional kekerasan atas nama agama lewat ISIS atau , penistaan agama yang tidak jelas konteksnya, peng-kafiran disana sini, dan masih banyak peristiwa/berita yang saat ini menjejali kita dan itu semua membawa2 agama atau setidaknya terkait tokoh agama. Ya, sebuah berita yang disuguhkan oleh para pengikut agama.

Apakah nilai-nilai agama telah hilang kesuciannya ?

Jika kita lihat peristiwa tersebut secara global sebenarnya itu bukanlah cerminan atau mewakili dari nilai-nilai agama itu sendiri sebab yang merusak adalah pemeluknya sendiri. Sekali lagi bukan agamanya. Ya, yang merusak adalah pemeluknya.

“Musuh utama umat Islam bukanlah umat Nasrani dan Yahudi. Tetapi kebodohan pada diri mereka sendiri ” Imam Ali as

Akan tetapi jika paham rasional memiliki pandangan subjektif terhadap agama maka hal ini akan menjadi alat untuk menghadirkan wajah agama dengan penuh kesuraman. Selanjutnya, hal inilah yang di khawatirkan akan memberangus nilai-nilai agama kepada anak-anak kita, kaum muda. Kenapa ? Generasi sekarang lebih rasional memandang agama dengan keadaan aktualnya. Yang terjadi tidak ada nilai spriritualitas dalam agama, dan memandang agama sekedar TREN, gaya-gayaan.

Kecenderungan itulah membuat generasi sekarang muak dengan agama dan memilih ATHEIST. Tidak mengakui lagi keberadaan Tuhan, tidak mempercayai bahwa Tuhan itu eksis, ternyata beragama itu merusak. Agama menjadi tidak menarik diikuti karena selalu menjadi alasan manusia saling berkonflik satu sama lain, agama menjadi alat kepentingan, agama menjadi alat memuluskan nafsu atau apapun.

Diperparah lagi kemajuan teknologi informasi memungkinkan generasi muda mendapatkan berita-berita bahwa negara yang paling bahagia, makmur dan jauh dari konflik adalah negara yang tidak memusingkan agama alias ateis. Artinya agama merupakan hal yang tidak lagi penting untuk dibahas. Negara atau peradaban akan maju jika tidak dipusingkan dengan masalah2 agama. Bahkan cara pandangnya pun berubah,”Manusia bisa beradab bahkan lebih beradab tanpa agama!!!”.

Hal ini terlihat oleh mereka bahwa para pemeluk agama gagal membawa pesan bahwa agama membawa perdamaian. Kesimpulan yang kita takutkan dan harus disadari, kita tidak ingin anak cucu kita kehilangan spiritualitas dari agama. Agama hanya jadi tren bahkan bisa merusak, jangan sampai anak-anak kita berpikiran,”Mungkinkah Ateis menjadi pilihan ?”.

Naudzubillah…

 

athiest

 

–oOo–

Advertisements

7 thoughts on “MUNGKINKAH ATEIS MENJADI PILIHAN ?

      1. Mestinya agama itu bisa dipahami secara rasional, begitu juga dengan rasio mestinya untuk memahami agama, tetapi kenapa sampai saat ini permasalahan itu tak kunjung jua. Lalu apakah ada kesalah dalam beragama atau kesalaham dalam berasio ?
        Menurut kakak gmn dg persoalan ini?

        Like

      2. Semua orang sepakat bahwa tidak ada yg salah dalam agama, yg menjadi permasalahan adalah setiap individu
        memiliki perbedaaan dalam “memahami” agama. Kalau mengutip pak Komarudin Hidayat (cendikiawan mslim),
        umat memahami agama baru sekedar tekstual, sedangkan dalam memahami diperlukan aktualitas. Ya kalau sudah
        bicara aktualitas artinya memahami agama haruslah mencakup rasio, nalar, sosiologis, budaya, etika/moral/akhlak, historis
        hingga psikologis. Ya penjabarannya menjadi sangat luas. Jika dengan demikian “jubah” fanatisme buta harus ditanggalkan
        bahkan mau tidak mau kita harus berpikir liberalis bahkan komunis. Islam sebagai agama yang Rahmatan Lil Alamin
        adalah mencakup semua itu. Namun kembali lagi, pemahaman setiap orang terbatas, karena ketebatasan itu
        menjadikan cenderung tekstual atau open book akhirnya membuat kesan agama itu menjadi kaku. Islam agama yang luwes
        dan pasti sesuai dengan jaman (bukan Islam yg mengikuti jaman, namun sebaliknya)
        pemahaman yg aktual inilah yg diperlukan umat, bukan menjadi liberal, namun islam yg tidak kaku.
        Mungkin itu pendapat saya mudah2an bisa menjawab….

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s