CORATCORETCARUT

MASJID TEMPAT IBADAH ATAU TEMPAT BERPOLITIK ???

161062-960x480

Saya mengutip tulisan Buya Syafi’i Ma’arif dalam kolom resonansi Republika (inilah susahnya kalo penulis amatiran, ga’ direcord keterangannya ):

“……jika dalam khutbah Jum’at diselipkan kampanye politik partai tertentu, pastilah masjid berhenti menjadi tempat yang nyaman, diliputi oleh suasana persaudaraan. Perpecahan di akar rumput akan menjadi sulit dihindari, seperti yang dulu pernah berlaku. Jalan yang paling arif menurut saran saya adalah membebaskan semua masjid dari gesekan politik kepentingan sesaat. Jadikan Rumah Allah ini sebagai tempat teduh dan sejuk buat semua orang beriman, terlepas dari apa pun partai yang didukungnya”.

Tulisan Buya ini didasari Quran surah At-Taubah ayat 107-108, bahwa masjid dibangun atas dasar takwa, dan bukan untuk mengejar kepentingan duniawi yang bisa membawa perpecahan. Ayat inilah menurut Buya yang wajib dijadikan acuan dan pedoman dalam kehidupan kolektif umat Islam, bukan sumber yang lain. Cukuplah masjid menjadi tempat ibadah dan pembelajaran agama, politik praktis tidak perlu masuk ke sana.

Jaman Rasulullah SAW, masjid merupakan pusat kegiatan kaum Muslimin. Tidak hanya digunakan untuk ibadah, tapi digunakan sebagai pusat dakwah Rasul, peradaban, dan tempat bermusyawarah. Selain itu, masjid juga sebagai tempat Rasulullah memberikan khutbah, pengarahan semua masalah kehidupan mulai dari agama, sosial, maupun politik.

Yang jelas pada Jaman Rasulullah, masjid adalah pusat dakwah sekaligus pemerintahan.

Akan tetapi pada saat ini terjadi pergeseran fungsi masjid. Masjid terbatas hanya untuk menunaikan shalat dan khutbah-khutbah untuk mengkritisi kebijakan pemerintah, akhirnya masjid dimanfaatkan sebagai tempat penyampaian pendapat politik (kepentingan).

Jika kita lihat di Palestina bahwa gerakan intifadah terlahir dari masjid, begitu juga perjuangan rakyat Afganistan melawan Uni Sovyet (pada jamannya) terlahir dari gerakan masjid. Dari kedua contoh tersebut sangatlah berbeda konteksnya dengan yang terjadi di Indonesia. Sekali lagi KONTEKSNYA.

Mungkin saya setuju dengan Buya dengan melihat perbedaan kondisi Antara Palestina dan Indonesia. Bahwa masjid haruslah menjadi tempat yang nyaman untuk beribadah, masjid harus terhindar dari kegiatan politik praktis. Masjid harus disterilkan dari kepentingan politik sesaat dan menjadi tempat teduh bagi orang yang beribadah serta terhindar dari sikap partisan.

Jadi menurut Buya, jangan membawa-bawa syahwat politik kekuasaan ke dalam masjid karena pasti akan mengotori dan menyulut sengketa yang sangat ditentang Alquran. MESJID ADALAH TEMPAT NETRAL.

Mari kita jaga “kesucian” masjid, umat harusnya cerdas dan bijak untuk menggunakan rumah Allah ini sesuai dengan fungsinya, yakni untuk beribadah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah, bukan kampanye yang bisa memecah belah.

Mesjid adalah tempat ibadah umat, tempat mencerdaskan umat serta tempat menyatukan umat.

Gitu Ajah….

 

–oOo–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s